Waktu, kesungguhan dan pelajaran
Kami dengan wajah-wajah kelelahan, badan pegal-pegal akhirnya bertemu pada sesi santai duduk melingkar di bawah keteduhan pohon-pohon cemara, nyaman sekali rasanya. Saking beratnya hari-hari itu, sehingga kami dapat tertidur, bahkan ketika berada pada sesi materi dengan berdiri. Tanpa diduga akhirnya ada salah seorang diantara kami yang bertanya, “Kenapa diklat ini sangat berat ? Sampai-sampai telah kami rasakan melebihi batas kemampuan kami ?”
Yang ditanya bukannya menjawab, justru melontarkan pertanyaan, “Kenapa kamu berpendapat bahwa diklat ini sudah melampaui batas kemampuanmu ? Memangnya bagaimana kamu mengukurnya ?”. “Lihatlah wajah-wajah kuyu kami, kami seharian dibentak-bentak, lari-lari, jalan naik turun gunung siang dan malam, apakah belum terlihat juga dari wajah-wajah kami ?”, Jawab teman kami. “Lalu sebenarnya apa batasnya ?” tanyanya lagi. Kami diam.
Akhirnya dia menjawab sendiri, “Yang disebut batas kemampuan kita itu adalah ketika kamu sudah pingsan. Lalu pertanyaannya.’ adakah diantara kalian yang sudah pingsan ?’” Dan dijawabnya sendiri pula pertanyaannya itu, “Nyatanya tidak ada diantara kalian ini yang pingsan”. Tidak ada yang membantahnya waktu itu. Saya pun capek, juga beresiko untuk berdebat, di sini tidak ada kesetaraan antara komunikan dan komunikator, lagian yo bingung juga mau jawab apa, hehe. Tetapi saya meyakini bahwa beratnya diksar ini tentu akan meninggalkan kesan yang mendalam. Lihatlah organisasi mana yang lebih erat persahabannya ? Apakah Mapala, Osis, BEM, Paskibraka, Paduan suara, grup drum band ataukah yang lainnya ?
Kultum Prof Yunahar Ilyas di Masjid Syuhada
Wew ternyata di kalender bulan Agustus belum ada tulisannya
. Ya sudah kalo gitu nulis kultumnya Pak Yunahar Ilyas aja pas tarawih di masjid Syuhada Selasa kemaren, 25 Agustus 2009. Tentang do’a. Lagian katana, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.
Ada yang berdo’a, “Ya Allah kalau saya bisa menghajikan kedua orang tua saya, maka di DO pun saya tidak masalah”. Kemudian Allah kabulkan do’a itu, orang tuanya dapat menunaikan ibadah haji dan yang berdo’a ter-DO dengan sukses!
Ada juga yang berdo’a, “Ya Allah, Engkau mengetaui keinginanku dan yang terbaik bagiku” atau “Ya Allah do’a ku sama dengan yang kemaren”
silent ato getar HP pas sholat, please
Di Masjid Kampus UGM, saya perhatikan selalu ada himbauan untuk men-silent-kan hape sebelum sholat berjamaah dimulai. Di beberapa masjid ada himbauan dalam bentuk kertas tertempel untuk mematikan/men-silent-kan hape waktu masuk masjid.
Kemarin waktu sholat Ashar di Masjid, di pertengahan rakaat pertama ada hape yg berbunyi, “sumpah i love you, i miss you….”. Karena si empunya hape ga ngangkat, yg nelpon mungkin juga penasaran, kemudian beberapa saat ‘menyanyi’ lagi, “sumpah i love you, i miss you….”. Dulu temen juga pernah cerita pas sholat Subuh ada yg bawa hape dan berdering “eh eh kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan si dia….”. waduh-waduh
Maka sudah seharusnyalah silent ato getarkan aja hape kita waktu sholat, apalagi jika berjamaah, terlebih lagi di masjid, baik dihimbau ato tidak dengan penuh kesadaran…
Rembulan Tenggelam di Wajahmu [Novel Pemaknaan Kehidupan]
Saya, anda dan kita semua mungkin sudah, sedang dan pernah menanyakan tentang makna-makna kehidupan. Saya dan anda mungkin saja mempunyai daftar pertanyaan yang sama [dan mungkin tidak]. Apakah kita sudah menemukan akan jawabnya ?

Dibuka dengan kehadiran seorang anak perempuan di suatu panti yang sangat rindu akan ayah bundanya. Bermain ayunan. Sendirian. Tangisan yang menyebabkan langit menumpahkan hujan dengan lebatnya. Saat malam hari raya yang semarak….
Tentang seorang anak laki-laki yang yatim piatu yang merasa mendapatkan panti yang penjaganya tidak amanah. Perbuatan nakal dan hukuman. Saat malam hari raya….
Tentang 5 pertanyaan yang selalu membayangi perjalanan seorang manusia bernama Ray. Kenapa saya dilahirkan yatim piatu dan dibesarkan dalam sebuah panti yang buruk ? Padahal banyak panti yang sangat baik, kenapa harus dip anti ini ?. Itulah pertanyaan pertama Ray. Apakah hidup di dunia ini adil ? sebgai pertanyaan keduanya. Apakah dan bagaimanakah mencapai kebahagiaan ?. Dst.
Mungkin menjawab sebagian Tanya kita juga, tapi mungkin saja juga tidak. Kita diajak untuk merenungi tentang makna-makna. Tentang hidup dan kehidupan. Novel yang sangat bagus sekali menurut saya.
Ditulis oleh Tere Liye dan diterbitkan oleh Republika. Saya mengenal sang pengarang saat dipinjami novel oleh teman saya [terima kasih
] berjudul ‘Hafalan Sholat Delisa’. Novel yang langsung bercerita, tanpa pendahuluan, tanpa kata pengantar, tangpa perkenalan latar pengarangnya dan menggunakan nama [pena ?] Tere Liye. Namun dalam novelnya kali ini dimuat sedikit profile di halaman belakangnya.


Tanggapan