Lomba Lari Zeno

•19 Agustus 2008 • Tidak ada Komentar

Sebenarnya pertanyaannya adalah sederhana, “Dapatkah Achilles memenangkan lomba lari melawan kura-kura ?”

Zeno dilahirakan di Elea sekitar tahun 490 SM, seorang yang dikenang sebagai orang yang paling menjengkelkan, karena berhasil mengacaukan dasar-dasar pemikiran Barat dengan menggunakan ketakterhinggaan.

Zeno memiliki sebuah paradoks : sebuah teka-teki yang tak dapat dipecahkan oleh para filsuf Yunani. Paradoks yang paling sukar dan ia berhasil membuktikan kemustahilan.

Dalam teka-tekinya, Zeno membuktikan bahwa dalam lomba lari, Achilles yang gesit tak akan pernah bisa menyusul kura-kura lamban yang melakukan start lebih dulu.

Mari kita simak perlombaan mendebarkan ini. Achilles berlari dengan kecepatan 10 m/dt dan si kura-kura mampu berlari dengan kecepatan setengah darinya, yaitu 5 m/dt. Dan seperti diungkapkan di atas, agar lebih adil, sang kura-kura start 10 m di depan Achilles, tapi tak masalah karena Achilles dapat berlari 2 kali lebih cepat dibanding kura-kura.

A………………………………………….K…………………………………………..

A : Start Achilles

K : Start Kura-kura

Perlombaan pun dimulai. Maka Achilles pun berlari dengan semangat ‘45, dan dalam 1 detik ia telah mencapai tempat kura-kura sebelumnya. Tapi saat sang Achilles mencapai titik tersebut, si kura-kura, yang juga berlari telah maju sejauh 5 m.

……………………………………………A……………………K……………………

Tidak masalah. Achilles lebih cepat hingga dalam waktu ½ detik ia dapat mencapai 5 meter. Tapi, sekali lagi si kura kura tersebut juga telah bergerak ke depan, kali ini jaraknya 2,5 meter.

………………………………………………………………….A…………K………..

Dalam sekejap, ¼ detik, Sang Achilles berlari kembali menuju posisi kura-kura, sehingga maju sejauh 2,5 meter, namun saat itu juga kura-kura telah kembali maju sejauh 1,25 meter.

………………………………………………………………………………A…K…

Achilles terus berlari dan berlari untuk berjuang menyusul kura-kura. Tetapi setiap saat si kura-kura tetap berada di depannya. Tak peduli seberapa dekat antara Achiles dan kura-kura, pada saat ia mencapai titik tempat si kura-kura berada, si kura-kura telah beranjak. Si kura-kura selalu berada di depannya.

Dengan berdasaran perlombaan ini, maka Zeno pun berkeyakinan bahwa dunia ini adalah statis/diam.

Saksi Tsunami di Meulaboh

•14 Agustus 2008 • 2 Komentar

Setelah sholat Ashar di masjid yang dekat dengan garis pantai itu – kira-kira 100 meter dari garis pantai – saya duduk-duduk di serambi. Masjid ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT, mengingat jaraknya yang sangat dekat dengan pantai. Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa terdapat banyak masjid yang sangat dekat dengan laut namun tidak mengalami kerusakan yang cukup berarti pada saat terjadinya bencana tsunami yang sangat dahsyat, 26 Desember 2004.

Inilah masjid, salah satu tanda kebesaran Allah, dari serambi kita dapat melihat laut yang begitu dekat di depannya dan jika kita berjalan ke arah kiri masjid maka sekitar 200 m akan sampai di pelabuhan Meulaboh.

Inilah masjid, salah satu tanda kebesaran Allah, dari serambi kita dapat melihat laut yang begitu dekat di depannya dan jika kita berjalan ke arah kiri masjid maka sekitar 200 m akan sampai di pelabuhan Meulaboh.

Meulaboh adalah ibukota kabupaten Aceh Barat yang sangat parah terkena hantaman tsunami dan foto ini diambil 3 tahun setelah kejadian tersebut. Tempat penginapan saya yang kira-kira berjarak 3 km dari masjid ini, menurut cerita perawat [atau dokter di RS CutNyak Dien], pada saat terjadinya tsunami air laut mencapai mata kaki. Tetapi banyak jatuh korban memang karena di kawasan pantai yang sangat dekat dengan laut banyak terdapat pemukiman warga.Dan saat ini – ketika saya di sana – kawasan pantai dekat pelabuhan sudah kembali banyak berdiri rumah baru warga, namun demikian terdapat area yang lumayan luas di belakang makam masal yang dibiarkan (tidak kembali dibangun rumah masyarakat) dan sekarang hanya ditumbuhi ilalang. Menurut guyonan, jika kita mau menyisir kawasan ini, mungkin kita akan menemukan emas, karena kabarnya masyarakat Aceh sangat suka menyimpan emas di rumah-rumah atau ….

Kita sudah melihatnya di berbagai stasiun televisi yang menayangkan betapa skala kerusakan dan korban yang ditimbulkan bencana ini sangat besar. Namun dibalik itu semua, kita juga disuguhi tontonan yang menggambarkan sebuah masjid yang berdiri seolah-olah di lapangan terbuka, karena pada kenyataannya rumah-rumah yang sebelumnya mengelilinginya telah hancur tak bersisa, Subhanallah….. Dan itu tidak hanya terjadi pada satu masjid saja dan salah satunya juga terjadi pada masjid yang kini saya berada di dalamnya.

Inilah makam masal yang jika ditarik garis lurus dari masjid di atas mungkin berjarak sekitar 1 km. Foto Mas Noufal di depannya, salah satu anggota team – dari 5 dokter spesialis – spesialis anak yang dikirim dari Jogja keturunan arab. Menurut pengakuannya dia adalah arab, arabisa apa-apa dengan logat ngapak-ngapaknya.

Inilah makam masal yang jika ditarik garis lurus dari masjid di atas mungkin berjarak sekitar 1 km. Foto Mas Noufal di depannya, salah satu anggota team – dari 5 dokter spesialis – spesialis anak yang dikirim dari Jogja keturunan arab. Menurut pengakuannya dia adalah arab, arabisa apa-apa dengan logat ngapak-ngapaknya.

Bergaya pada umumnya masjid-masjid yang ada di Aceh, berkubah hitam. Setelah dikumandangkan adzan, masyarakat berduyung-duyung menuju masjid, memenuhi panggilan-Nya. Setelah iqamat dikumandangkan, shaf-shaf disusun dengan rapi dan anak-anak dipisahkan dari shaf dewasa, berada tepat satu shaf di belakangnya, suatu hal yang jarang saya jumpai di masjid-masjid di Jawa namun sangat lazim di sini. Saat itu saya teringat di kampoeng [Kauman, Wedi, Klaten], betapa anak-anak justru dijejalkan dan disisipkan di antara shaf-shaf jamaah dewasa dan terkadang berada tepat di belakang imam. Walaupun saya tahu benar bahwa itu berangkat dari niat yang baik, agar mereka [anak-anak] tidak membuat keributan dan gojek saja. Wallahu ‘alam.

Duduk-duduk di serambi depan masjid. Dan di sebalah kanan adalah  Bapak Abdul Muthalib

Duduk-duduk di serambi depan masjid. Dan di sebalah kanan adalah Bapak Abdul Muthalib

Sekarang masjid ini sudah tidak berada [seperti] di lapangan terbuka lagi, karena bangunan-bangunan baru sudah mulai mengepungnya kembali. Namun masih terdapat tanah lapang menuju pantai yang belum terdapat bangunan di atasnya, hingga dari masjid ini kita dapat melihat garis pantai tanpa terhalang apapun, kecuali sebuah rumah kayu yang didirikan di tengahnya yang saya juga tidak tahu persis digunakan untuk apa, sepertinya berhubungan dengan masalah tsunami itu :D.

Di serambi sudah terdapat seorang paruh baya yang nampaknya juga baru selesai sholat Ashar dan menyengaja untuk duduk-duduk bersantai. Setelah memperkenalkan diri, beliau memperkenalkan namanya, Abdul Muthalib – sekilas saya teringat, inilah nama kakek Rasulullah saw, yang mengasuh beliau saat ibunda Aminah meninggal – yang baru menungggui putrinya kuliah di Universitas Tengku Umar yang terletak persis di samping masjid. Betapa kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya yang sangat besar. Setelah menceritakan putri-putrinya [semua anaknya adalah putri] akhirnya beliau pun menceritakan kejadian tsunami yang dahsyat itu.

Berawal terjadinya gempa pada pagi hari Ahad itu, masyarakat melihat suatu keganjilan. Beberapa saat setelah gempa terjadi, air laut kemudian surut ke belakang dan ini sungguh menarik bagi masyarakat. Gerangan apa yang terjadi, hingga air laut seolah-olah tersedot ke tengah laut. Maka secara cepat berita ini menyebar dan semakin menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Saya pun berfikir, jika saya dekat di sana dan mendengar berita itu, tentu akan dengan antusias akan menuju laut untuk melihat fenomena ini. Hingga ketika banyak masyarakat berada di garis pantai, ternyata kemudian gelombang tsunami kemudian datang menghantam apa saja yang ada di hadapannya. Dan kita pun menyaksikan melalui TV.

Papan itu bertuliskan POSKO SATGAS ##KOM dan di sebelah kanannya bertuliskan POSKO INFORMASI BENCANA Disaster Information Center

Papan itu bertuliskan POSKO SATGAS ##KOM dan di sebelah kanannya bertuliskan POSKO INFORMASI BENCANA Disaster Information Center

Setelah berfoto sebentar dan mengambil gambar Pak Abdul, saya pamit. Saya masih ingin menyusuri pantainya….

Tentang Edit Area

•12 Agustus 2008 • Tidak ada Komentar

EditArea is a free javascript editor for source code. It allow to write well formated source code. That’s no way a WYSIWYG editor

Pertama menemukannya secara tidak sengaja [sengaja ding, wong sampai searching-searching di google segala :p]. Kisah ini dimulai dari kebutuhan untuk melakukan koding dari web browser, sehingga syarat pertamanya adalah harus bisa meng-highlight kode program php, SQL dan HTML yang dimasukkan oleh si yuser. Dan syarat kedua adalah terdapat line number untuk tracking kesalahan kode.

Untuk kedua syarat ini saya menemukan beberapa editor web. Namun setelah mencoba memasang dan mencobanya, ada ketidaknyamanan yang sangat, yaitu luas editor yang sangat kecil. Ketika mencoba memperluasnya, justru menjadikan tampilan/interface webnya berantakan dan juga harus menggunakan scroll ke atas-bawah dan kiri-kanan yang sungguh tidak nyaman.

Pada waktu melihat wordpress, editornya ternyata dapat dibuat fullscreen seukuran browser dan dikembalikan ke keadaan semula dengan mudah, namun tidak terdapat highlight dan line number. Wajar, karena memang editor ini peruntukannya hanyalah untuk menulis artikel saja. Namun fasilitas fullscreen inilah yang saya butuhkan, bisa beralih dari dan ke fullscreen dengan mudah, karena koding dengan jendela yang kecil sungguh menyusahkan diri dan mendirikan kesusahan saja. Ternyata fasilitas ini tidak terdapat di editor-editor yang sudah saya temukan dan coba sebelumnya. Setelah googling, akhirnya ketemu editarea. Alhamdulillah.

Jadi kekuatan utama dari editarea ini, menurut saya adalah kemampuan highlight, line number dan fullscreen. Tambahan lainnya adalah pengaturan tab yang bisa dilakukan, apakah ingin dua atau tiga spasi atau bahkan terserah dan juga pengubahan luas editor yang dapat dilakuan dengan menarik tepi kiri bawah editor.

Dan inilah Features selengapnya :

  • Easy to integrate, takes only a couple lines of code.
  • Live syntax highlight.
  • Search and replace (with regexp).
  • Line numerotation.
  • International language support.
  • Allow to create new syntax or translation files.
  • Multiple instance on the same page.
  • Multiple browser support (see compatibility chart for more information).
  • Font resizing.
  • Toolbar customization.
  • Load and save callback function.
  • Possibility to use a gzip compressed version of the script (only 20Kb).

Untuk source dapat di download di sini atau googling aja, :D

Capture Editarea

Capture Editarea

Capture Editarea

Capture Editarea

Capture Editarea

Capture Editarea

Bermimpi

•8 Agustus 2008 • Tidak ada Komentar

Aku tidur dan kemudian bermimpi menjadi kupu-kupu yang terbang bebas.

Ketika aku bangun, aku menjadi ragu; apakah aku manusia yang bermimpi menjadi kupu-kupu ,

Ataukah aku kupu-kupu yang bermimpi menjadi manusia, yang bermimpi menjadi kupu-kupu.

Diambil dari kutipan yang ada di bukunya Kang Jalal berjudul Psikologi Agama.

Asal-usul angka Nol

•7 Agustus 2008 • Tidak ada Komentar

Waclaw Sierpinski, seorang pakar Matematika yang cemerlang … cemas karena kehilangan sebuah tas bawaannya. “Tidak sayang!”, kata istrinya. “Semuanya ada enam di sini”. “Tidak mungkin”, Kata Sierpinski. “Aku telah menghitungnya berulang kali: nol, satu, dua, tiga, empat, lima.” – The Book Of Number

Dalam sehari-hari, sesungguhnya kita tidak membutuhkan angka nol, benar-benar tidak butuh. Ketika anda ditanya, ‘Punya berapa jerukkah anda ?’, maka anda akan cenderung untuk mengatakan ‘Saya tidak punya jeruk’ ketimbang mengatakan ‘Saya mempunyai nol jeruk’. Ketika kita mempunyai seorang adik dan ditanya ‘Berapa tahun umur adikmu itu ?’. Maka kita lebih memilih untuk menjawab ‘Umurnya baru 1 bulan’ daripada harus menjawab dengan ’Umurnya baru 0 tahun’. Inilah masalahnya, karena dalam prakteknya kita sama sekali tidak memerlukan angka nol.

Maka dalam waktu yang sangat lama pada sejarah perjalanan manusia, angka nol tidak muncul. Dan ternyata angka nol sendiri relative belum terlalu lama ditemukan, karena memang ‘tidak penting’.

Petunjuk mengenai awal manusia mengenal hitungan ditemukan oleh arkeolog Karl Absolom tahun 1930 dalam sebuah potongan tulang serigala – ternyata mereka lebih bernyali, karena kita lebih memilih untuk menggunakan media kertas dibading tulang serigala – yang diperkirakan berumur 30.000 tahun.

Terserah anda akan membayangkan seperti apa 30.000 tahun yang lalu itu dan bagaimana kita hidup jika telah dilahirkan pada masa itu.

Pada potongan tulang itu ditemukan goresan-goresan kecil yang tersusun dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas lima. iiiii iiiii iiiii. Entah apa yang telah dihitung oleh Manusia gua Gog. Apakah ia sedang menghitung berapa lalat yang telah ia lahap, ataukah sudah berapa lama ia tidak mandi, entahlah. Dan pada zaman ini angka nol sama sekali belum muncul, karena memangnya untuk apa ?

Jauh sebelum zamannya si Gog, diperkirakan manusia baru mengenal angka satu dan banyak atau satu, dua dan banyak. Pada saat ini ternyata masih ada yang menggunakan sistem ini, yaitu suku Indian Sirriona di Bolivia dan orang-orang Yanoama di Brasil. Ternyata seiring berjalannya waktu, mereka mulai merangkai angka yang sudah ada. Suku Bacairi dan Baroro memiliki system hitung ‘satu’, ‘dua’, ‘dua dan satu’, ‘dua dan dua’, ‘dua dan dua dan satu’, dst. Mereka memiliki system angka berbasis dua dan kita sekarang menyebutnya dengan system biner – saat ini kita sering mempelajarinya jika kita mempelajari system hitungan yang digunakan komputer. Saat ini pun kita menuliskan sebelas sebagai sepuluh dan satu, dst.

Sekarang kita menyebut system basis lima yang digunakan si Gog adalah system quiner. Mengapa Gog memilih lima sebagai basisnya, dan bukannya basis empat atau enam ? Toh, basis berapapun yang dipilih, maka system penghitungan akan tetap bisa dilakukan. Tampaknya ini dipilih karena manusia sajak dari dulu sampai sekarang memiliki lima jari di setiap tangan. Penyebutan Baroro untuk ‘dua dan dua dan satu’ adalah ‘seluruh jari tangan saya’ dan masyarakat Yunani kuno menyebut proses penghitungan dengan fiving – melimakan. Tapi sampai saat itu angka nol tetap belum muncul, karena kita tidak perlu mencatat dan mengatakan ‘nol serigala’ dan ‘nol adik kita’ bukan ?

Sejak masa Gog manusia terus mengalami kemajuan. Kembali kita menelusuri mesin waktu, lima ribu tahun yang lalu, orang-orang Mesir mulai membuat tanda untuk menunjukkan ‘satu’, tanda lain untuk menunjukkan ‘lima’, dsb. Sebelum masa piramida, orang-orang Mesir kuno telah menggunakan gambar untuk system bilangan desimal – basis sepuluh, jari dua tangan saya – mereka. Bangsa Mesir akan menggambar enam simbol untuk mencatat angaka seratus dua puluh tiga ketimbang menggambar 123 garis. Bangsa Mesir dikenal sangat menguasai matematika. Meraka pakar perbintangan dan pencatat waktu yang handal dan bahkan sudah menciptakan kalender. Penemuan sistem penanggalan matahari merupakan terobosan besar dan ditambah dengan penemuan seni geometri . Meskipun mereka sudah mencapai matematika tingkat tinggi, namun angka nol ternyata belum muncul juga di Mesir. Ini dikarenakan mereka menggunakan matematika untuk praktis dan tidak menggunakannya untuk sesuatu yang tidak berhubungan dengan kenyataan.

Kemudian kita berpindah ke Yunani. Sebelum tahun 500 SM, mereka telah memahami matematika dengan lebih baik dibandingkan Mesir. Mereka juga menggunakan basis 10. Orang Yunani , sebagai contoh, menuliskan angka 87 dengan 2 simbol, dibandingkan dengan Mesir yang harus menuliskannya dengan 15 simbol, yang justru mengalami kemunduran pada angka Romawi yang memerlukan 7 simbol – LXXXVII. Jika bangsa Mesir menganggap matematika hanyalah alat untuk mengetahui pergantian hari – dengan sistem kalender – dan mengatur pembagian lahan – dengan geometri – , maka orang Yunani memandang angka-angka dan filsafat dengan sangat serius. Zeno yang melahirkan paradoks ketertakhinggaan dan Pytagoras yang sangat kita kenal dengan teorema segitiga siku-sikunya – yang belakangan diketahui bahwa rumus ini sebenarnya sudah diketahui sejak 1000 tahun sebelumnya, dilahirkan di sini. Kita juga mengenal Aristoteles dan Ptolomeus. Mereka dikenal dengan filsafatnya – yang tidak kita bahas dulu, karena akan sangat panjang – walaupun demikian, mereka juga tidak menemukan angka nol. Angka nol tetap belum ditemukan sampai saat ini.

Kembali ke dunia timur, Babilonia – Iraq sekarang – ternyata memiliki sistem hitung kuno yang jauh lebih maju. Mereka menggunakan sistem berbasis 60, seksagesimal , sehingga mereka memiliki 59 tanda. Yang membedakan sistem ini dengan Mesir dan Yunani adalah, bahwa sebuah tanda dapat berarti 1, 60, 3600 atau bilangan yg lebih besar lainnya. Merekalah yang mengenalkan alat bantu hitung abax – soroban di Jepang, suan-pan di China, s’choty di Rusia, coulbadi di Turki, dll yang di sini kita sebut dengan sempoa). Sistem hitung mereka seperti sistem kita saat ini dimana 222 menunjukkan nilai ‘dua’, ‘dua puluh’ dan ‘dua ratus’. Begitu juga simbol i menunjukkan ‘satu’ atau ‘enam puluh’ dalam dua posisi yang berbeda. Orang Babilonia tidak memiliki metode untuk menunjukkan kolom-kolom yang tepat bagi simbol-simbol tertulis, sementara dengan abakus hal ini lebih mudah ditunjukkan angka mana yang dimaksud. Sebuah batu yang terletak di kolom kedua dapat dibedakan dengan mudah dari batu yang terdapat di kolom ketiga dan seterusnya. Dengan demikian i dapat berarti 1, 60 atau 3600 atau nilai yang lebih besar. Sehingga ii dapat lebih kacau lagi, karena bsa berarti 61, 3601, dsb. Maka diperlukan penanda dan mereka menggunakan ii sebagai tempat kosong, sebuah kolom kosong pada abakus. Sehingga sekarang ii berarti 61 dan iiii berarti 3601. Walaupun mereka telah menemukan penanda kolom kosong dengan ii, namun sesungguhnya angka nol tetap saja belum muncul pada kebudayaan ini.ii tetap tidak mempunyai nilai numerik tersendiri.

Maka ketika kita meninggalkan kebudayaan-kebudayaan di atas, tetap saja belum kita temukan angka nol dan dari titik ini kita akan mengalami percabangan untuk menentukan siapa sebenarnya penemu sang angka nol. Asal mula matematika di India masih samar. Sebuah teks yang ditulis pada tahun 476 M menunjukkan pengaruh matematika Yunani, Mesir dan Babilonia yang dibawa Alexander saat penaklukannya. Suatu ketika pakar Matematika India mengubah sistem hitung mereka dari sistem Yunani ke Babilonia tetapi berbasis sepuluh. Namun dari referensi pertama bilangan Hindu yang berasal dari seorang Uskup Suriah pada tahun 662 menyebutkan bahwa mereka menggunakan 9 tanda dan bukannya sepuluh.

Dengan jatuhnya kekaisaran Romawi pada abad VII, Barat pun mengalami kemunduran dan Timur mengalami kebangkitan. Selama bintang Barat tenggelam di balik cakrawala, bintang lainnya terbit, Islam.

Setelah Rasulullah Muhammad saw wafat maka dimulailah masa Khulafur Rasyidin yang dipimpim oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Amirul Mukminin Umar Bin Khattab Al Faruq ra, Amirul Mukminin Usman Bin Affan Dzunnurrain ra dan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib kw. Dan saat ini Islam telah tersebar mencapai Mesir, Suriah, Mesopotamia dan Persia dan juga Yerusalem. Pada tahun 700 M, Islam telah mencapai sungai Hindus di Timur dan Algiers di Barat. Tahun 711 M, Islam telah menguasai Spanyol sampai ke wilayah Prancis dan di tahun 751 M telah mengalahkan Cina. Dan di Spanyol yang lebih dikenal dengan Andalusia, mengalami puncak kejayaanya pada abad VIII.

Pada abad IX, Khalifah Al Ma’mun mendirikan perpustakaan megah, Bayt Al Hikmah – Rumah Kebijaksanaan. Dan salah satu ilmuwan terkemukannya adalah Muhammad Ibnu Musa Al Khawarizmi. Tulisan pentingnya antara lain Al-Jabr Wa Al-Muqabala dan dari sinilah muncul istilah aljabar – penyelesaian. Dan juga menyebarkan Algoritma dari kata Al-Khawarizmi.

Dan dari sinilah bangsa-bangsa di belahan dunia lain akan mengikuti sistem bilangan arab yang baru. Bilangan yang terdiri atas sepuluh tanda. Dan akhirnya angka nol pun muncul dan selesailah perjalanan kita. Dan kita tetap belum tahu secara pasti apakah angka nol pertama muncul di India ataukah di Andalusia ataukah di Arab. Namun suatu hal yang pasti, ia baru muncul pada abad – minimal – VI atau bahkan lebih. Wallahu ‘alam.

*Sebagaian diambil dari buku berjudul Biografi Angka Nol oleh Charles Seife

Pertaruhan Pascal

•5 Agustus 2008 • 2 Komentar

Terlahir di Clermont Ferrand pada 19 June 1623 Blaise Pascal, Ilmuwan dan filsuf Perancis Blaise Pascal (1623 1662 M) memang sejak kecil sudah menunjukkan bakatnya sebagai ahli matematik yang disegani, pakar dalam bahasa Perancis serta dikenal sebagai filsuf besar yang relijius.


Pasti anda semua sudah pernah mendengar Pascal.

Dia ahli dalam probabilitas – Ilmu peluang/kemungkinan, yang bagi saya waktu sma dan sampai kini tetap saja membingungkan, kadang terlihat jelas kemudian bingung lagi :D – matematika. Suatu saat dia membuat suatu pertaruhan yang menarik. Baiklah, sebelum kita melihat pertaruhan yang dia buat, coba kita renungkan hal ini.

Di depan anda terdapat dua kotak, kotak A dan kotak B. Saya juga mempunyai koin 1000 perak. Kemudian saya lemparkan koin uang itu, jika keluar angka maka saya akan mengisi kotak A dengan uang seribu rupiah dan jika keluar gambar maka saya akan mengisi kotak B dengan uang 10 juta rupiah.

____________ ____________

|___________| |___________|

A B

Permaiannya sederhana, seseorang diminta untuk memilih antara kotak A dan kotak B dan akan mendapatkan apa yang ada di dalamnya. Jika anda yang diminta untuk memilih, maka kotak mana yang akan dipilih ?

Terserah pada pilihan anda dan alasan yang akan anda kemukakakn kenapa anda memilihnya, namun saya akan memilih kotak B.

Sekarang marilah kita perhitungkan nilai kotak A. Kemungkinan pertama berisi 1000 jika koin yang dilemparkan menunjukkan angka dan tidak berisi apa-apa jika koin menunjukkan gambar. Dan nilai kemungkinan koin yang dilempar keluar angka adalah 50:50 artinya ½. Mari kita perjelas :

½ * 1000 = 500 (koin muncul angka)

½ * 0 = 0 (koin muncul gambar)

500

Jadi kotak A bernilai 500 dan dengan cara yang sama kita mendapatkan keadaan kotak B adalah

½ * 0                 = 0 (koin muncul angka)

½ * 10.000.000 = 5.000.000 (koin muncul gambar)

5.000.000

Jadi kita dapatkan ternyata kotak B bernilai 5.000.000.

Untuk kasus di atas tanpa perhitungan apapun, saya yakin sebagian besar dari kita – jika tidak mau dikatakan semuanya –juga akan memilih kotak B, walaupun di antara keduanya terdapat kemungkinan bahwa kita tidak mendapatkan apa-apa.

Nah untuk kasus yang sama, Pascal membuat perbandingan yang juga mirip dengan pertaruhan di atas. Kita semua pasti mati, dan marilah kita hitung kemungkinan keadaan manusia setelah ia mati.

Keadaan pertama, ia beriman kepada Allah SWT dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Kemudian keadaan kedua jika ia malah kafir dan durhaka kepada-Nya.

Sekarang, marilah kita hitung keadaan pertama, yaitu beriman dan taat kepada-Nya. Jika ternyata Tuhan ada, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang besar dan kekal – digambarkan dengan bilangan takterhingga. Dan sebaliknya, jika ternyata Tuhan tidak ada, maka ia juga tidak mendapatkan apa-apa – digambaran dengan angka nol.

½ * ~ = ~ (Tuhan ada, dan ~ menggambarkan kebahagiaan yang tidak terhingga)

½ * 0 = 0 (Tuhan tidak ada, maka ia tidak mendapat apa-apa)

~

Jadi memilih untuk beriman dan taat mempunyai nilai yang tak terhingga. Kemudian kita perhitungkan keadaan sebaliknya, yaitu bagi orang yang kafir kepada-Nya.

½ * -~ = -~ (Tuhan ada, dan -~ [min takterhingga])

½ * 0 =   0 (Tuhan tidak ada, maka ia tidak mendapat apa-apa)

-~

Min takterhingga menggambarkan penderitaan yang kekal. Sehingga orang yang memilih kafir, dia mempunyai nilai min takterhingga. Jika kemudian kita buat bahwa kemungkinan adanya Tuhan adalah 1/6 milyar, maka nilai dari keduanya tetap tidak berubah, karena 1/6 miliar * ~ tetap menghasilkan nilai yang takterhingga.

Padahal kita hidup di dunia inipun dikelilingi oleh tanda-tanda keberadaan Allah SWT. Dari hal terkecil sampai dengan hal terbesarnya, jika kita melihat keteraturan atom, maka kita akan takjub. Dan jika kita melihat luasnya jagad raya, maka kita pun akan kembali takjub pula. Namun kita memang diberi kebebasan oleh Allah SWT untuk memilih di antara kedua pilihan tersebut….

Catatan :

*Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? [Al Waaqi’ah:58-59]

*Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya ? [Al Waaqi’ah:63-64]

*Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. [Yunus:5]

*Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. [Al Furqoon:61]

*Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran [Al Baqarah 186]

* Survei terbaru mengatakan 90% masyarakat dunia percaya akan keberadaan Allah atau kuasa lain semacamnya.

*Argumentasi teologis mengatakan karena alam semesta mempertunjukkan desain yang begitu luar biasa, pastilah ada seorang desainer Illahi.

*Argumentasi kosmologis menyatakan bahwa setiap akibat pasti ada penyebabnya. Alam semesta dan segala isinya adalah akibat atau hasil. Pastilah ada sesuatu yang mengakibatkan segalanya ada. Pada akhirnya, haruslah ada sesuatu yang “tidak disebabkan” yang mengakibatkan segala sesuatu ada. Sesuatu yang “tidak disebabkan” itu adalah Allah.

Kurindukan mereka, ya Rasul Allah

•31 Juli 2008 • Tidak ada Komentar

Dini hari di Madinah Al Munawarah
Kusaksikan para sahabat berkumpul di masjidmu
Angin sahara membekukan kulitku
Gigiku gemeretak
Kakiku berguncang

Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka
Engkau dating, ya Rasul Allah

Kupandang dikau
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Assalamu alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullah
Kudengar salam bersahut-sahutan

Kau tersenyum, ya Rasul Allah, wajahmu bersinar
Angin sahara berubah hangat
Cahayamu menyelusup seluruh daging dan darahku
Dinihari Madinah berubah menjadi siang yang cerah

Kudengar engkau berkata
Adakah air pada kalian ?
Kutengok cepat gharibahku
Para sahabat sibuk memperlihatkan kantong kosong
Tidak ada setetespun air ya Rasul Allah

Kusesali diriku
Mengapa tak kucari air sebelum tiba di masjudmu
Duhai bahagianya, jika kubasahi wajah dan tanganmu
Dengan percikan-percikan air dari gharibahku

Kudengar suaramu lirih
Bawakan wadah yang basah

Aku ingin meloncat mempersembahkan gharibahku
Tapi ratusan sahabat berdesakan mendekatimu
Kau ambil gharibah kosong
Kau celupkan jari-jarimu

Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jarimu
Kami berdecak, berebut, berwudhu dari pancuran sucimu
Betapa sejuk air itu, ya Rasul Allah
Betapa harum air itu, ya Nabi Allah
Betapa lezat air itu, ya Habib Allah
Kulihat Ibnu Mas`ud mereguknya sepuas-puasnya

Qad qamatish shallah
Qad qamatish shallah

Duhai bahagianya shalat di belakangmu
Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu
Melimpah memasuki jantung dan pembuluh darahku

Usai shalat kaupandangi kami
Masih dengan senyum yang sejuk itu
Cahayamu, ya Rasul Allah, tak mungkin kulupakan

Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudra dirimu
Ingin kujatuhkan sebutir debuku dalam sahara tak terhinggamu

Kudengar kau berkata lirih
Ayyul khalqi a`jabu ilakum imanan ?
Siapa makhluk yang imanya paling mempesona ?

Malaikat, ya Rasul Allah

Bagaimana malaikat tak beriman,
Bukankah mereka berada di samping Tuhan

Para Nabi, ya Rasul Allah

Bagaimana Nabi tak beriman
Bukankah pada mereka turun wahyu Tuhan

Kami, para sahabatmu

Bagaimana kalian tidak beriman
Bukankah aku berada di tengah-tengah kalian
Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan

Kalau begitu siapakan mereka, ya Rasul Allah ?

Langit Madinah hening, bumi Madinah hening
Kami termangu

Siapa gerangan mereka yang imanya paling mempesona ?

Kutahan nafasku, kuhentikan detak jantungku, kudengar sabdamu

Yang paling menakjubkan imanya
Mereka yang tiba setelah aku tiada
Yang membenarkanku
Tanpa pernah melihatku

Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasul Allah ?

Kalian sahabat-sahabatku
Saudaraku adalah mereka yang tak pernah berjumpa denganku
Mereka beriman pada yang ghaib
Mendirikan shalat
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan pada mereka

Kami terpaku
Lanit Madinah hening, bumi Madinah hening
Kudengar lagi engkau berkata
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku menemui mereka

Suaramu parau, butir-butir airmatamu tergenang
Kau rindukan mereka, ya Rasul Allah
Kau dambakan pertemuan dengan mereka, ya Nabi Allah

Assalamu’alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh

Saya menangis
ketika waktu itu membacakannya
Dan saya menangis lagi
ketika saya menuliskan ulang buat anda

Jalaluddin rakhmat pada pengantar “Manusa-Manusia Cermin, Tutur Berhikah Hikmah Bertutur” karya MIF Baihaqi

Saya termenung dan berharap
kita  termasuk
yang Rasulullah rindu dan mendamba
akan pertemuan dengan mereka
Tapi kesadaranku langsung muncul
Apakah pantas …….

(Ada) Ke(tidak)pastian dalam Ilmu Pasti Matematika

•29 Juli 2008 • 6 Komentar

Dengan matematika bisa dibuktikan bahwa 2 = 1

Memang sesuatu yang aneh dan tidak logis. Bukankah Matematika sudah terkenal dengan adigiumnya yang logis dan masuk dalam jajaran inti ilmu pasti ?

Tapi memang matematika telah dapat membuktikan bahwa 2 = 1. Hal ini secara tidak sengaja saya lihat pembuktiannya saat menemukan buku — eh membeli maksud saya – tentang teori Einstein dalam Al Qur’an, sudah lupa pengarangnya siapa. Dan memang di dalamnya membahas rumusnya yang sangat terkenal itu, . Tentang kecepatan cahaya dan malaikat dan keterhubungannya dengan nash-nash dalam Al-Qur’an, dsb, dsb. Di dalamnya juga dijelaskan secara singkat biografi si Einstein ini dari kecilnya sampai akhirnya mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang mencengangkan.

Namun ada satu bagian yang saya sangat tertarik dengan buku tersebut. Pada masa sma-na – tidak dijelaskan di sma mana, barangkali SMA N I Klaten ? – ternyata dia sudah bisa membuktikan dengan matematika bahwa 2 = 1. Dan ternyata sederhana sadja :

Catatan :

yak, bagitu saja. Dengan sangat jelas terbukti bahwa 2 memang sama dengan 1. Aneh. Tapi memang matematika agak aneh, setidaknya itu saya temukan juga dalam bab limit.

Dalam persamaan-persamaan limit, saya sering berfikir, “wah matematika ini koq tidak konsisten ya”. Coba saja lihat salah satu contoh di bawah ini.


Kita dulu diajari untuk menyeleseikan soal di atas waktu sma menggunakan aljabar. Tapi menurut saya aneh juga, coba kita lihat :

1. Jika kita masukkan nilai -2 pada x mentah-mentah, artinya tanpa mengubah persamaan itu, maka akan menjadi :

dengan perhitungan seperti ini jika kita hitung dengan kalkulator, maka sang kalkulator itu akan menjerit histeris dengan mengeluarkan hasil e, yang jika dijabarkan adalah ‘embuh lah’.

2. Dan dengan ‘sedikit’ aljabar maka penyelesaian soal itu menjadi :

Kenapa bisa begitu ? padahal e, yang aslina berarti tidak terdefinisi, tentu tidak sama dengan -5 bukan ? Benar-benar aneh.

Apa pendapat anda ?

Temen saya yang kuliah di Fisika MIPA UGM juga sering bilang, “Fisika itu bidang ilmu pasti yang penuh dengan ketidakpastian”. Entah apa maksud temen saya tersebut.

Apakah anda juga menemukan keanehan-keanehan dalam bidang yang disebut sebagai ilmu pasti ?