Tidak diragukan lagi bahwa positif thinking berdampak baik bagi kita. Ditengah gelombang informasi tentang hal-hal yang buruk, semrawutnya penegakan hukum, dll yang terjadi di Indonesia Raya ini, lalu bagaimana mensikapinya ? Haruskah kita terus-menerus saling menyalahkan sesama kita ? Atau kita diam saja ? Atau menganggap bahwa keadaan kita sebenarnya adalah baik-baik saja ? Atau mendengungkan ungkapan, “Harapan itu masih ada” secara terus-menerus ?

Sesungguhnya apa dan bagaimana positif thinking itu ? Dalam salah satu tulisannya, Jalaluddin Rakhmat, ahli komunikasi, menawarkan pemahaman tentang positif thinking ini dengan memberikan gambaran tentang negatif thinking. Pendekatan ini pernah dilakukan oleh sahabat Rasulullah, Hudzaifah ketika ia bertanya, “Manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah,…’”.

Adalah seorang petani di desa suatu pagi merasa kehilangan cangkulnya. Dia cari tidak diketemukannya, mulailah dia berfikir bahwa mungkin saja cangkulnya telah dicuri. Pada titik ini dia sudah meyakini bahwa cangkulnya telah dicuri. Tapi oleh siapa ? Dia mulai berfikir kembali. “Oh mungkin oleh tetangga saya itu”. Setelah sampai di kesimpulannya ini, dia berencana untuk mulai mengumpulkan bukti atas prasangkanya ini.

Dan kebetulan saja sang tetangga yang sama-sama petani — yang dicurigainya — datang ke rumahnya. Dia menyapa dan memberikan sekedar lauk yang dimasak oleh istrinya, memang demikianlah keramahan kehidupan di desa. Sang petani menerima pemberiannya sambil membatin, “Ternyata dugaanku benar, dia lah yang mencurinya, sekarang dia berusaha menutupi kejahatannya dengan menampakkan kebaikan kepadaku”… Sang tetangga merasa bahwa tanggapan yang diterimanya berbeda, tapi dia memendamnya.

Keesokan harinya sang tetangga melewati si petani dan melemparkan senyum kepadanya, tetapi sang petani melihat hal ini dengan menganggapnya sebagai cara untuk menutupi kelakuannya, sehingga dia tidak membalasnya. Di pihak lain si tetangga mulai bingung dengan sikap sang petani, hingga dia mulai merubah sikap ramahnya. Dan sang petani pun menanggapinya dengan kesimpulan, “Ternyata benar dugaanku dialah yang mengambilnya, saat tindakannya sudah hampir ketahuan, ia mulai menjauh dariku…” Dan hal ini berjalan beberapa lama.

Hingga akhirnya sang petani seperti biasa membersihkan gudangnya dan ia kaget bukan kepalang ternyata cangkul itu ada di bawah tumpukan jeraminya…