Biar ada variasi, sekarang saatna nulis tentang jalan-jalan santai bareng teman-teman. Kemaren kebetulan baru saja menyambangi salah satu obyek wisata yang kabarnya barusan dibuka di wilayah Wonosari Gunung Kidul. Acara penting juga ini, soalnya untuk refreshing, F5 -refresh- biar ide-ide segar dan kreatif bisa terus bersemi dan ngga melulu mikirin koding yang ngga habis-habis – padahal topik pembicaraan klo uda ngumpul ya mbalik tentang programming lagi, salahnya para politikus juga si, terlalu gaduh jadinya uda pada males bicara politik lagi….

Setelah direncanakan dalam pertemuan rutin mingguan di UNY – tepatnya di kolam renang maksudna, hehe – akhirnya Sabtu pagi tanggal 24 September 2011 jam 5.45, saya, Agung, Gabrie dan Choirul sudah kumpul di kosan Gus Choi. Padahal sebenernya janjian ngumpul bada Subuh, alias jam 5 di pos pertama, kosan Choirul – walau terlambat, faktanya saya sudah berangkat jam 04.59 (membela diri, hehe).



Perjalanan dimulai pukul 06.15. Karena masih pagi, jadi sekalian cari bekal sarapan untuk disarap pas di lokasi. Namun ketika baru masuk jalan Wonosari ternyata ban salah satu motor mengalami kebocoran. Sebenernya untung juga si bocornya masi di kota, bayangkan aja jika bocornya di tengah hutan dan padahal (lagi) setelah diperiksa, ban motor na memang sudah gundul-gundul pacul. Akhirnya harus kembali lagi ke kosan Gus Choi untuk mengambil motor supra x menggantikan motor yang sedang ditambah bannya. Jadi secara de facto kami berempat berangkat jam 8an, dan secara de jure jam 6.15.

Mendekati lokasi tujuan, ternyata medannya sangat sulit, karena jalan-jalan yang dibuat dari batu ini sangat curam baik kenaikan maupun turunannya. Walhasil was-was juga, ini beneran gak ? Jangan-jangan nanti di dekat lokasi nggak ada penitipan, padahal katanya air terjun masih harus ditempuh dengan jalan kaki ? Tapi ternyata sampai juga di tempat penitipan sepeda motornya. Waktu perjalanan pulang baru ketahuan, ternyata berangkatnya salah jalan, tapi ya ga papa lah, sambil liat-liat alam juga, :)

Sampai lokasi ditanya, mau jalan kaki atau berperahu, kami ambil opsi jalan kaki, karena masih pagi dan jiwa muda, masak mau naik perahu ? Lumayan ringan dan ga cape si, coz jalannya menurun – nanti pas pulang baru kerasa, karena ternyata jalnnya naik cukup tinggi dan curam, :) )

Pemandangan dari atas ke bawah, air sungai terlihat hijau, eh Gung rep Dhuha sek po ?

Setelah ada yang memberi contoh untuk terjun ke sungai dan tidak ada tanda-tanda keberadaan buaya dan hewan berbahaya semacamnya, maka kami pun memberanikan diri untuk berenang menuju tepian sungai di seberang

Setelah lelah mondar-mandir di sungai, saatnya minta tolong pengunjung lain untuk berfoto ria, di sini disensor, karena aurotnya terbuka, hehe

Mampir ke masjid untuk sholat Dhuhur, di sebelah ada sumur, walah2 dalamnya.. untung ngga harus nimba dulu

Ada razia polisi, dan Alhamdulillah Choirul yang bawa motor dengan SIM saya bisa lolos pemeriksaan polisi, hurray :)

Sampai pos pertama kembali sudah sore, dan saatnya sholat Ashar dan pulang ke rumah masing-masing sambil merencanakan petualangan selanjutnya….

Kesimpulan : obyek wisata sri getuk ini (nama yang aneh…) cukup layak untuk dikunjungi dan – seperti biasa – akan sangat baik jika sebagian uang pajak bisa diselamatkan (dari koruptor) untuk memperbaiki jalan akses ke lokasi…