Sang Musafir

Ia kebingungan bagaimana membawa sekarung gandum dengan unta, jika ditaruh sebelah kanannya, jelas tidak imbang. Pemikiran cerdas, menurutnya, ia temukan. Pedagang itu mengisi satu karung lagi dengan pasir, untuk menyeimbangkan gandum yang dibawanya di sebelah kanan dan kiri unta. Puas.

Setelah berjalan sekian lama, beristirahatlah ia di bawah pohon dan bertemu dengan musafir compang camping di situ. Negeri-negeri jauh dengan berbagai keajaibannya diceritakan oleh sang musafir. Sang pedagang terkagum-kagum. “Orang ini ternyata sangat luar biasa”, gumamnya. “Apa yang kau bawa dengan dua karung itu ?” Dijawabnya tanya musafir. “Bukankah akan lebih baik jika engkau bagi dua saja gandum itu menjadi dua karung ?” Ide itu sungguh semakin menambah kekagumannya. Kekaguman semakin bertambah semakin lama ia berbicara denganya.

Bekal makan, kemudian dikeluarkan oleh sang pedagang. Melihat itu sang musafir meminta barang sedikit untuk makan. Ia belum makan selama beberapa hari, akunya. “Bagaimana mungkin orang secerdas anda tidak punya makanan ?”, pedagang berteriak. “Engkau bisa lihat bajuku pun compang camping, rumah pun aku tak punya”.

Dengan penuh keheranan akhirnya ia bertanya, “Lalu apa yang engkau peroleh dengan pengetahuan2mu itu ? Dengan pemikiran2 mu yang cerdas ?”

“Aku hanya memperoleh kebingungan dan kebingungan saja.”

Cerita di atas adalah cerita dengan redaksi saya yang pernah saya baca dari bukunya berjudul ??? [lupa] Kang Jalal yang ia ambil dari kisah Jalaluddin Rumi.

Sesungguhnya siapa yang lebih cerdas, pedagang ataukah musafir itu, atau kedua-duanya sama-sama bodoh atau malah kedua-duanya sama-sama cerdas ?

Lalu apakah dengan demikian kita bertendesi untuk hanya untuk mencari uang semata saat kita sekolah dari TK hingga Sarjana ?

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.