Saksi Tsunami di Meulaboh

Setelah sholat Ashar di masjid yang dekat dengan garis pantai itu – kira-kira 100 meter dari garis pantai – saya duduk-duduk di serambi. Masjid ini adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT, mengingat jaraknya yang sangat dekat dengan pantai. Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa terdapat banyak masjid yang sangat dekat dengan laut namun tidak mengalami kerusakan yang cukup berarti pada saat terjadinya bencana tsunami yang sangat dahsyat, 26 Desember 2004.

Inilah masjid, salah satu tanda kebesaran Allah, dari serambi kita dapat melihat laut yang begitu dekat di depannya dan jika kita berjalan ke arah kiri masjid maka sekitar 200 m akan sampai di pelabuhan Meulaboh.

Inilah masjid, salah satu tanda kebesaran Allah, dari serambi kita dapat melihat laut yang begitu dekat di depannya dan jika kita berjalan ke arah kiri masjid maka sekitar 200 m akan sampai di pelabuhan Meulaboh.

Meulaboh adalah ibukota kabupaten Aceh Barat yang sangat parah terkena hantaman tsunami dan foto ini diambil 3 tahun setelah kejadian tersebut. Tempat penginapan saya yang kira-kira berjarak 3 km dari masjid ini, menurut cerita perawat [atau dokter di RS CutNyak Dien], pada saat terjadinya tsunami air laut mencapai mata kaki. Tetapi banyak jatuh korban memang karena di kawasan pantai yang sangat dekat dengan laut banyak terdapat pemukiman warga.Dan saat ini – ketika saya di sana – kawasan pantai dekat pelabuhan sudah kembali banyak berdiri rumah baru warga, namun demikian terdapat area yang lumayan luas di belakang makam masal yang dibiarkan (tidak kembali dibangun rumah masyarakat) dan sekarang hanya ditumbuhi ilalang. Menurut guyonan, jika kita mau menyisir kawasan ini, mungkin kita akan menemukan emas, karena kabarnya masyarakat Aceh sangat suka menyimpan emas di rumah-rumah atau ….

Kita sudah melihatnya di berbagai stasiun televisi yang menayangkan betapa skala kerusakan dan korban yang ditimbulkan bencana ini sangat besar. Namun dibalik itu semua, kita juga disuguhi tontonan yang menggambarkan sebuah masjid yang berdiri seolah-olah di lapangan terbuka, karena pada kenyataannya rumah-rumah yang sebelumnya mengelilinginya telah hancur tak bersisa, Subhanallah….. Dan itu tidak hanya terjadi pada satu masjid saja dan salah satunya juga terjadi pada masjid yang kini saya berada di dalamnya.

Inilah makam masal yang jika ditarik garis lurus dari masjid di atas mungkin berjarak sekitar 1 km. Foto Mas Noufal di depannya, salah satu anggota team – dari 5 dokter spesialis – spesialis anak yang dikirim dari Jogja keturunan arab. Menurut pengakuannya dia adalah arab, arabisa apa-apa dengan logat ngapak-ngapaknya.

Inilah makam masal yang jika ditarik garis lurus dari masjid di atas mungkin berjarak sekitar 1 km. Foto Mas Noufal di depannya, salah satu anggota team – dari 5 dokter spesialis – spesialis anak yang dikirim dari Jogja keturunan arab. Menurut pengakuannya dia adalah arab, arabisa apa-apa dengan logat ngapak-ngapaknya.

Bergaya pada umumnya masjid-masjid yang ada di Aceh, berkubah hitam. Setelah dikumandangkan adzan, masyarakat berduyung-duyung menuju masjid, memenuhi panggilan-Nya. Setelah iqamat dikumandangkan, shaf-shaf disusun dengan rapi dan anak-anak dipisahkan dari shaf dewasa, berada tepat satu shaf di belakangnya, suatu hal yang jarang saya jumpai di masjid-masjid di Jawa namun sangat lazim di sini. Saat itu saya teringat di kampoeng [Kauman, Wedi, Klaten], betapa anak-anak justru dijejalkan dan disisipkan di antara shaf-shaf jamaah dewasa dan terkadang berada tepat di belakang imam. Walaupun saya tahu benar bahwa itu berangkat dari niat yang baik, agar mereka [anak-anak] tidak membuat keributan dan gojek saja. Wallahu ‘alam.

Duduk-duduk di serambi depan masjid. Dan di sebalah kanan adalah  Bapak Abdul Muthalib

Duduk-duduk di serambi depan masjid. Dan di sebalah kanan adalah Bapak Abdul Muthalib

Sekarang masjid ini sudah tidak berada [seperti] di lapangan terbuka lagi, karena bangunan-bangunan baru sudah mulai mengepungnya kembali. Namun masih terdapat tanah lapang menuju pantai yang belum terdapat bangunan di atasnya, hingga dari masjid ini kita dapat melihat garis pantai tanpa terhalang apapun, kecuali sebuah rumah kayu yang didirikan di tengahnya yang saya juga tidak tahu persis digunakan untuk apa, sepertinya berhubungan dengan masalah tsunami itu :D.

Di serambi sudah terdapat seorang paruh baya yang nampaknya juga baru selesai sholat Ashar dan menyengaja untuk duduk-duduk bersantai. Setelah memperkenalkan diri, beliau memperkenalkan namanya, Abdul Muthalib – sekilas saya teringat, inilah nama kakek Rasulullah saw, yang mengasuh beliau saat ibunda Aminah meninggal – yang baru menungggui putrinya kuliah di Universitas Tengku Umar yang terletak persis di samping masjid. Betapa kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya yang sangat besar. Setelah menceritakan putri-putrinya [semua anaknya adalah putri] akhirnya beliau pun menceritakan kejadian tsunami yang dahsyat itu.

Berawal terjadinya gempa pada pagi hari Ahad itu, masyarakat melihat suatu keganjilan. Beberapa saat setelah gempa terjadi, air laut kemudian surut ke belakang dan ini sungguh menarik bagi masyarakat. Gerangan apa yang terjadi, hingga air laut seolah-olah tersedot ke tengah laut. Maka secara cepat berita ini menyebar dan semakin menimbulkan tanda tanya besar tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Saya pun berfikir, jika saya dekat di sana dan mendengar berita itu, tentu akan dengan antusias akan menuju laut untuk melihat fenomena ini. Hingga ketika banyak masyarakat berada di garis pantai, ternyata kemudian gelombang tsunami kemudian datang menghantam apa saja yang ada di hadapannya. Dan kita pun menyaksikan melalui TV.

Papan itu bertuliskan POSKO SATGAS ##KOM dan di sebelah kanannya bertuliskan POSKO INFORMASI BENCANA Disaster Information Center

Papan itu bertuliskan POSKO SATGAS ##KOM dan di sebelah kanannya bertuliskan POSKO INFORMASI BENCANA Disaster Information Center

Setelah berfoto sebentar dan mengambil gambar Pak Abdul, saya pamit. Saya masih ingin menyusuri pantainya….

Iklan

9 responses

  1. Jadi penasaran ingin ke Aceh… Dari dulu cuma liat suasana Aceh dari TV trus…

  2. Kutipan “Saya pun berfikir, jika saya dekat di sana dan mendengar berita itu, tentu akan dengan antusias akan menuju laut untuk melihat fenomena ini. Hingga ketika banyak masyarakat berada di garis pantai, ternyata kemudian gelombang tsunami kemudian datang menghantam apa saja yang ada di hadapannya.”

    Betul juga ya, sebelum tsunami terjadi, banyak yang tidak mengetahui tanda-tanda tsunami itu seperti apa, bahkan orang yang pernah tau pun bisa saja lupa dan tetap penasaran utk melihat fenomena ini lebih dekat lagi ke garis pantai.

  3. apakabar kapan ke meulaboh lagi…

  4. @ Bang Azwar

    Alhamdulillah baik. Pengen si ke sana lagi, ….
    Masih di RS CND ? Gimana kabar pembangunan RS nya, uda slesei kah ? Aplikasinya uda jalan penuh bang, tanpa manual ?

    Salam untuk Ibu Syamsidar dan putrinya, Bang Mahdi, Bang Tommy n temen-temen d RS CND semua.

  5. salam. ni gua emile, fotonya kok ketawa didepan PEMAKAMAN MASSAL. kayak seneng gitu ngeliatnya. ekspresinya salah tuh…

  6. jujur ya kalo aq inget tentang aceh rasa2ne pingin nagis… aq kangen banget palagi ma meulaboh…. berjuta2 kenangan tertinggal disana….. Tuhan…. berikan aq kesempatan untuk menginjakan kaki ini di tananh kelahiranq lagi….. amin…….

  7. Tolong kabarin bagaimana melaboh sekarang,kalo bisa dengan foto2.sdh lama x Nelli ga pulang sjk tsunami,tp keluarga msh dsna smua kecuali kak Netty & ank nya yg jg jadi korban,dan sampe skrg g ktemu mayatnya.hik..hik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: