Perjuangan mendapatkan SIM dengan jalan yang Benar

Cerita ini dimulai sekitar tahun 2011. Setelah ‘agak’ lumayan ‘bisa’ mengendarai mobil, maka cobalah saya mencari SIM A. Saya tidak mempunyai beban untuk segera mendapatkan SIM A, karena toh pada waktu itu saya juga belum mempunyai mobil.

Maka pada hari [lupa] datanglah saya ke kantor polres Klaten. Di parkiran motor, langsung disambut dengan tawaran bantuan, tetapi saya jawab, “bahwa saya akan mencari SIM A sesuai dengan prosedur”. Maka datanglah saya ke loket untuk mendapatkan formulir, untuk kemudian melakukan tes kesehatan. Saya tidak tahu, berapa sesungguhnya biaya tes kesehatan, namun di sini pemohon SIM diminta bayaran tanpa kuitansi. Setelah itu menuju loket BRI dan membayar biaya Membuat SIM A baru.

Maka mulailah  perjuangan yang sebenarnya dimulai.

Masuk ke ruangan test teori. Di kursi seperti kursi pas jaman kuliah, disediakan mouse dengan petunjuk singkat, Jika menjawab A, maka tekan klik kiri, dan B klik kanan. Di layar depan, ditembakkan viewer yang mensimulasikan bermacam-macam soal dalam animasi, dan peserta kebanyakan tinggal menjawab, “Apakah benar yang dilakukan mobil berwarna hijau, dst”, jika benar tekan A, dan B jika salah. OK, seep. Saya rasa ini sudah lumayan bagus, namun saya ada beberapa usulan,

  1. Sebaiknya disediakan website yang bisa diakses masyarakat, yang berisi teori-teori berkendaraan, sehingga hal ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi Masyarakat agar mereka mengerti benar hal-hal yang luput dari pengetahuan mereka sehari-hari.
  2. Setelah tes selasai, diberikan jawaban yang benar atas simulasi yang barusaja diberikan, sehingga pemohon SIM dapat mengerti bagaimana sesungguhnya perilaku berkendara yang benar tersebut.

Ujian teori ini saya lalui 3 kali, pada kali pertama dan kedua, saya belum lolos, baru pada yang ketiga kalinya bisa lulus, Alhamdulillah. Sebenarnya ketika tidak lulus, kita sudah didekati oknum polisi/calo, “Gimana pak, mau dibuat lulus ga nih ?”. Sebagai informasi, ketika saya tidak lulus ujian pertama, maka saya baru boleh ikut ujian lagi minggu depan. Jika di ujian kedua belum lulus juga, maka dapat mengikuti 2 minggu dari ujian kedua. Prosedur ini mungkin dimaksudkan agar pemohon SIM belajar dari ketidaklulusannya, namun sungguh membuang waktu.

Maka disini saya usulkan, agar ujian kedua dan ketiga, mestinya bisa lebih fleksibel, karena sangat tidak logis bagi pencari SIM A yang tidak punya banyak waktu, untuk sekedar bolak-balik mengurus ujian teori ini. Saya bayangkan, pencari SIM A dari pekerja negeri sipil dan pekerja swasta, apakah mereka harus bolak-balik ijin dan cuti untuk urusan SIM A ini ?

Setelah lolos ujian teori, masuklah pada tahap ujian praktek. Disediakan mobil tidak sama polres Klaten ? “TIDAK”. Ketika saya tanyakan kenapa tidak disediakan, jawabannya disampaikan oleh pak polisi sendiri, “Jika kami sediakan, kami nanti akan dicurigai macam-macam oleh masyarakat jika mereka tidak lulus”. Wew, pemikiran yang aneh menurut saya.

Mestinya hal ini dibaca oleh kepolisian untuk memperbaiki diri, betapa rendahnya kepercayaan publik/masyarakat pada kepolisian. Tetapi ternyata malah tidak disediakan mobil. Soalnya bagi pemohon SIM A yang belum mempunyai mobil, jadinya mesti usaha sendiri, entah dengan pinjam ataupun rental, tentu ini menimbulkan biaya lagi. Lagipula, jikapun sudah memiliki mobil, sementara ia belum punya SIM A, pencari SIM A ini bagaimana caranya agar sampai polres ? Bukannya di jalan diwajibkan mempunyai SIM A ? Aneh.

Walhasil, dengan mobil pinjaman, saya mengikuti ujian praktek ini. Ada 4 orang seingat saya, dan tidak ada yang lulus. Lalu saya ? ya ikut yang tidak lulus, hehe. Dalam proses ujian praktek SIM A ini, saya apresiasi penjelasan yang diberikan penguji tentang beberapa hal yang perlu diketahu para pengemudi mobil. Penjelasan ini perlu saya kira. Penjelasan berlangsung kira-kira15-30 menit. Pada awalnya saya senang dengan penjelasan ini, tetapi ketika saya pada akhirnya harus melakukan ujian praktek sampai 6 kali, betapa membosankan dan menghabiskan waktu saja penjelasan ini.

Ujian praktek ini dibagi dalam 2 paket. Pertama ujian tanjakan. Peserta diminta mengendarai mobil dan naik ke atas tanjakan dan berhenti di tengah-tengah, matikan mesin, kemudian nyalakan mesin kembali, kemudian harus bisa berjalan maju tanpa mundur lebih dari 30cm. Di sinilah pada ujian praktek pertama saya gagal, tetapi Alhamdulillah bisa lolos di kali kedua.

Pada tahap kedua, pemohon SIM A diminta melakukan parkir dengan mundur dan terakhir parkir paralel. Pada tahap ini, bagi yang ingin lulus, saya hanya bisa menyarankan untuk melakukannya dengan mobil kecil. Karena apapun mobil anda, lintasan dan tantangan yang dilalui sama saja. pada ujian tahap inilah saya mengalami kegagalan pada kali kedua dan ketiga.

Sama saja, jarak antara ujian satu ke dua, berjarak 1 minggu, dan sua ke tiga berjarak 2 minggu. Betapa menghabiskan banyak waktu dan tidak efisiennya. Saya sendiri sebenarnya sudah didesak dari sana dan sini untuk menyudahi keinginginan saya untuk mendapatkan SIM A dengan jalan yang benar ini. Saya paham, waktu, tenaga dan pikiran yang diperlukan sangat banyak. Dalam hal ini, uang yang harus saya keluarkan untuk sekedar mengisi bensin dengan lebih untuk mobil pinjaman dan  biaya rental, jauh lebih banyak jika saya putuskan untuk membayar kepada polisi dan langsung bisa foto. Bahkan saudara saya yang polisi memberikan ungkapan yang lebih mencengangkan (* dalam bahasannya Cak Lontong), “Nek iso lulus, ta s*mb*h kwe mas”. Ungkapan yang luar biasa.

Tenyata setelah tiga kali ujian praktek saya tetap belum bisa mengantongi SIM A. Sama pak polisi dibawa ke ruangannya.

P : Bagaimana pak ? mau membayar atau kami kembalikan uangnya dan bapak bisa mencari SIM dari awal lagi ?

S : Jadi saya harus ujian kesehatan, ujian teori lagi pak ?

P:  Yes, ketes-ketes.

* Percakapan sesungguhnya panjang, dan saya dari awal tidak meniatkan untuk membayar, hanya ingin tahu saja, tarifnya berapa. Di tahap ini, sogokan yang diminta adalah 200 ribu, setelah membayar, akan langsung dinyatakan lulus.

Oke, saya minta dikembalikan saja uang yang sudah saya bayarkan ke BRI itu pak. Akhirnya saya mulai lagi dari awal, pada bulan Mei 2012 (kalau tidak salah). Ujian teori lagi, Alhamdulillah langsung lulus. Ujian praktek lagi dan ternyata tetap gagal. Karena kesibukan, akhirnya ujian praktek kedua, baru bisa saya lakukan kembali pada bulan Januari – Februari 2014.

* Pada rentang waktu itu, sebelum punya SIM A, Alhamdulillah tidak pernah terkena razia polisi.

** Pada akhirnya muncul tekanan dari orang tua, “Nek kwe rung due SIM A, bapak ibuk ura gelem mbok sopiri”

*** Asuransi mobil ternyata menjadi tidak berlaku jika pengendaranya tidak memiliki SIM

Akhirnya setelah ujian praktek kedua, tetap tidak lulus, setelah polisinya pergi dari lapangan uji, saya coba sendiri, ternyata mobil yang saya gunakan tidak memungkinkan untuk bisa lulus, sudah saya coba berulang kali, dengan pelan-pelan, dengan berbagai gaya, tidak bisa juga. Akhirnya saya meluncur ke kantor polisi untuk membayar saja, tapi ternyata loket sudah tutup. ya sudah.

Pada ujian ketiga, benar saja, ternyata saya tetap tidak lulus, dan saya memang sudah siap untuk membayar saja. Sampai polres, saya disuruh masuk ruangan ketemu pak polisi fulan, ngobrol2 sebentar, bayar 200 ribu. Setelah membayar, pelayanan jadi menyenangkan, duduk sebentar sudah dipanggil untuk foto. Kebetulan waktu itu petugas fotonya baru pergi, dicarikan sama pak polisinya agar bisa cepat foto. Dan pak polisinya bilang, “uang ini begini2 dan begitu2…” hanya ta iyakan saja. malas menanggapinya… Trakir, bapaknya mengungkapkan, “memang susah sih pak praktek SIM A…” sebelum melanjutkan, beliaunya meralat ucapanyya, “…tidak begitu susah… agar kemampuan pemohon SIM A benar-benar bisa…” bla bla bla. Ah, saya si nunggu foto biar cepet saja dan pengen segera bisa pulang.

* Beberapa kali saya ujian praktek hanya sendirian, anda bisa menyimpulkan sendiri kenapa.

** Semoga ke depan ada kapolri yang bisa membereskan berbagai penyimpangan yang ada di kepolisian, mungkin jika Pak Ignatius Jonan yang terbukti bisa menata PT KAI yang dulunya amburadul jadi baik seperti sekarang, setelah selesai di KAI bisa ditugaskan sebagai KAPOLRI untuk membenahi keajaiban-keajaiban yang ada di sana.

*** Yah, setelah melakukan ujian teori 4 kali dan ujian praktek 6 kali dalam rentang waktu 2012-2014, akhirnya harus membayar juga, hiks.. hiks.. 😦

Iklan

6 responses

  1. Wah, ra sido dis*mbah Cak Lontong ya? 😦

    Aku yo lagi meh mindah SIM A dari Semarang ke Jogja.
    Kayanya ya bakal pake jalur cepat nan tikus lah …

    Memang prinsip “kalau bisa susah, kenapa dibuat mudah” masih belom bisa dihilangkan …

    1. Nek mindah lueh gampang Ric, ra perlu ujian2, urus dewe wae karo delok sistem pelayanan SIM e, sopo reti iso diusulke Sistem Informasi Manajemen na polri men gampang n transparan 😀

  2. Saya setuju dengan tulisan di atas. Saya sendiri baru mau buat SIM A di Daan Mogot, persis persis sama. Polisi korup. Muak. Tes tertulis gagal dua kali. Sedangkan calo jelas-jelas berkeliaran, bikin lulus bawaannya. Menjijikkan.

  3. Kalo sim C sangat memungkinkan untuk lulus, tp sim A spertinya ga akan mungkin lulus prakteknya, karena saya sendiri mengalaminya di polres Tangerang, karna tes tulisnya sudah online menggunakan komputer, meskipun susah tp saya langsung lulus dan login menggunakan nomer ID yg telah dikasih, mungkin lain cerita bila tes tulisnya masih manual, dan pada prakteknya saya 2 kali tidak lulus, dan saya yakin ada permainan mesin di mobil untuk praktek tersebut, ada 2 tuas kopling dan rem jg, yang digunakan operator yg duduk di sebelah saat melakukan praktek, karna saya sangat merasakan hal tersebut, pasti gagal saat tanjakan ( mobil mengalami mundur), dan setelah melalui tanjakan, pada saat turunan, mobil ngerem sendiri tetapi saya tidak menginjak pedal rem, sekedar saran bila mau tes praktek klo boleh bawa mobil sendiri, bila tidak boleh operator jangan naek di sebelah kita, karna ya ga akan bisa lulus.

    1. benar, kalau SIM C memang bisa dengan jalur jujur. Sudah saya buktikan dan saat mengantar adik saya….

  4. saya juga sendang mengikuti tes sim A di kabupaten Jombang, susah sekali tetapi saya akan terus semangat. dari beberapa peserta ada yang sudah sampai 16X test praktek.

    dari beberapa komentar mereka, nampaknya ukuran panjang lebar parkir seri dan pararel terlalu sempit. kebetulan waktu saya menunggu ada ibu2 yang dulunya calo disitu menuturkan bahwasanya disini memang sulit seribu banding satu yang lulus. wkwkwkwk

    saya pernah ambil foto peserta test praktek sim A dari tempat duduk antri test. eh ternyata disuruh menghapus sama petugas ujian praktek. ada apa ini, mungkin ada yang di tutup-tutupi oleh mereka,apakah ukuran parkir seri dan pararelnya tidak sesuai aturan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: