Category Archives: Hikmah Jumat

Hikmah Jum’at, 1 Mei 2015, “Wahai Umat Islam Kejarlah Ilmu”

Suatu ketika seorang Ustadz akan memberangkatkan rombongan jamaah haji dan berceramah, “… Alhamduilillah bapak2 ibu2, uang yang telah kita tabung selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, pada hari ini telah cukup untuk kita berangkat haji, yang semoga dapat mengantarkan kita semua ke pintu syurga…dan semoga haji kita ini menjadi haji yang mabrur…”

“amin…”, serempak calon jamaah haji mengaminkan do’a sang ustadz.

Dan kemudian sang ustadz melanjutkan, “… Dan kita patut berterima kasih pada umat Nasrani dan Yahudi yang telah membantu kita untuk melakukan ibadah haji ini…”

… jamaah haji terdiam.

“Dengan pesawat buatan mereka, boeing, kita dapat menuju Makah, yang jika kita tempuh dengan kapal layar, maka akan kita habiskan berminggu-minggu di lautan sebelum sampai ke Makkah…”

… jamaah haji [masih] terdiam.

“Maka kita mesti mendidik anak-anak kita dan cucu-cucu kita untuk menguasai ilmu itu…”

Kemudian sang khatib menyebutkan perkataan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib, “Jika kalian ingin mendapatkan dunia, maka harus dengan ilmu, jika ingin mendapatkan akhirat, maka juga dengan ilmu, dan jika kalian ingin mendapatkan keduanya maka ia akan didapat dengan ilmu…”.

Iklan

Hikmah Jum’at, 24April2015, “Jika Anda Tidak Bisa Memberi Manfaat, Maka Minimal Jangan Menyulitkan Orang Lain”

Khutbah Jum’at di Masjid Gandaria City, dengan landasan hadis :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، الَمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ.

(رواه البخارى وأبو داود والنسائى)

Abdullah bin Umar ra. berkata, bahwa Nabi saw. telah bersabda, seorang muslim adalah orang yang menyebabkan orang-orang Islam (yang lain) selamat dari Lisan dan tangannya dan orang yang hijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang telah dilarang Allah swt.”

(H.R. Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa’i)

dan juga

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Maka setelah khatib memberikan pesan meningkatkan taqwa, marilah kembali kita mengukuhkan niat untuk bisa memberikan kemanfaatakan atas kehadiran kita, dan jika kita tidak bisa melakukannya, setidaknya janganlah menyusahkannya….

Wallahu ‘alam.